Bab 273 Pernikahan Di Atas Kertas
Novel berjudul Pernikahan Di Atas Kertas adalah sebuah novel yang bergenre romantis banyak orang yang dibuat ketagihan untuk membaca novel ini, novel ini sangat terkenal karena jutaan orang telah membaca novel ini dan merasa puas.
Novel ini dapat membuat guncangan emosi yang kuat bagi
pembacanya, karena di setiap alur ceritanya membuat pembaca semakin ingin tau
kelanjutan dari cerita nya.
Teman – teman pasti penasaran dengan ceritanya bukan? Pada kali
ini saya akan memperkenalkan dan memberikan novel Pernikahan Di Atas Kertas,
Kami yakin anda pasti akan suka dengan novel ini, mari kita simak bersama novel
berikut ini
Novel Pernikahan Di Atas Kertas Bab 273
![]() |
Arka dan Aqila yang baru mengakhiri panggilan telpon dengan
sang mommy saling pandang.
"Bie, tumben mommy ngajak liburan, emangnya ada acara
apa?" tanya Aqila penasaran sambil menatap sang suami.
"Sayang kalau kamu tanya aku lalu aku tanya
siapa?" ucap Arka bertanya balik pada aqila.
"Iya sih, ya sudah lupain saja sekarang kita keluar
kasihan anak-anak di luar sendiri kita tinggalin," ajak Aqila lalu keluar
terlebih dahulu.
Arka pun menyusul melihat pergi nya aqila dari ruangan.
"Sayangnya Mommy lagi ngapain nih, fokus sekali sampai
nggak nyadar mommy datang," ucap Aqila lalu duduk di samping arin.
"Iya Mom, kita lagi belajar besok kan arin pentas mommy
dan daddy harus ada nonton, di panggung Arin pasti cantik benar begitu kan
Abi?" tanya Arin menyenggol lengan bocah pria itu.
Abi yang sedang fokus belajar menjadi ternganggu menatap
malas kembaran nya itu.
"Ya Arin cantik, kecantikan Arin tidak ada yang bisa
tandingan, puas?" puji Abi yang juga bertanya kesal.
"Mommy dengar bukan kata Abi apa? jadi mommy dan daddy
harus datang, oke," ucap Arin sambil tersenyum penuh harap.
"Iya sayang, mommy dan daddy bakal datang, masa jagaon
mommy dan daddy tampil gak hadir," kata Aqila mencubit gemas pipi Arin
yang gembul itu.
"Mommy jangan di cubit nanti pipi Arin tidak cantik
lagi," protes Arin.
"Ya benar Mom, kalau Arin tidak cantik tidak akan ada
yang mau temanan sama arin, benar seperti itu bukan?" seru Abi secara tak
sengaja meledek kembaran nya.
"Abi! tidak ada seperti itu."
"Sudah-sudah, Abi, Arin jangan berantem sekarang lanjut
belajar nya jangan ada yang saling meledek, ayo," lerai Arka pusing tiap
hari melihat kedua anaknya tak pernah angkur selalu berantem.
...****************...
Di sisi lain, tini dan vian sedang dalam perjalanan pulang
ke apartemen, namun seketika itu mobil yang vian kendarai berputar balik arah.
"Van, kita mau kemana? kenapa mendadak berputar arah
seperti ini?" tanya Tini binggung.
"Ke Mall baby, persediaan baju ku tak ada lagi, kalau
tidak beli sekarang mau kapan lagi lalu sebentar aku pakai apa? Emangnya kau
mau pijamin aku baju?"
"Kalau kamu mau pinjam ya silakan aku gak masalah pakai
saja," ucap Tini menjawab dengan santai.
"Serius kamu gak masalah aku pinjam?" tanya Vian
serius menatap penuh arti.
Tatapan vian itu membuat tini merasa tidak beres, dia yakin
ada maksud dari perkataan itu, tapi dia tak tau.
Tidak mendapat jawaban dari sang kekasih, vian menoleh ke
samping menatap nya.
"Baby boleh gak sih? Kok gak di jawab, serius gak nih
aku pinjam pakaian kamu?" ucap Vian bertanya ulang.
"Boleh, bebas pilih mana saja," jawab Tini.
Dan seketika itu pun vian langsung menepikan mobil, tini
yang tidak tau kenapa mengerutkan kening menatap tanya.
"Kenapa berhenti mendadak Van?"
"Aku ingin pakai pakaian yang di kenakan kamu,"
ucap Vian santai.
Pletak....
Tini terkejut sontak saja menjitak jidat vian.
"Auwh, baby kok di pukul sih," aduh Vian meringis
kesakitan.
"Biarin, kenapa? kurang? mau lagi?" tanya Tini
menawarkan diri mencoba sabar menghadapi pria mantan Casanova.
"Kamu tega deh sama calon suami, awas kalau udah nikah
aku buat kamu gak bisa bangun," ancam Vian sambil mengusap kening nya.
"Bodoh amat," jawab Tini tidak peduli.
"Baby, kenapa akhir ini kamu begitu galak pada ku,
emangnya aku ada salah? tapi seingat ku enggak tuh, aku selalu menyayangi mu
dengan penuh cinta bahkan rela lakuin apapun itu demi kamu," kata Vian.
"Ya, itu memang benar, kamu sangat mencintai ku, tapi
Van aku tidak menyukai perkataan barusan mu itu, lain kali sebelum berbicara di
pikir dulu baik-baik atau aku akan marah dan tangan ini bukan hanya memukul
kepala mu tapi juga aset mu," serius Tini menatap Vian.
Mendengar itu Vian menelan kasar saliva, perkataan kekasih
nya benar-benar sadis, kalau di pukul rusak tak berfungsi bagaimana? emangnya
bisa di ganti yang baru, di pikir burung peliharaan apa.
Vian tidak tau apa yang ada di otak tini hingga bisa menjadi
sesadis ini, seingatnya di negara X tidak seperti ini.
Apa mungkin ini efek dari kakak nya, vian mengingat jelas di
mana tini menceritakan mempergoki kakak nya berduaan dan saat itu mereka baru
menyelesaikan hubungan badan, apa karena itu tini begitu tegas tidak mau hal
yang terjadi pada kakak nya terjadi pula pada nya juga.
"Baby aku gak nyangka ternyata begitu besar dampak yang
harus kamu rasakan, tenang lah aku tidak akan melakukan itu sebelum kita resmi
menikah, aku janji," batin Vian sedih.
"Baiklah tidak lagi, aku menyayangimu baby," ujar
Vian meraih tangan tini dan mengecup.
"Aku juga Van, maaf kalau aku udah galak sama kamu, aku
harap kamu mengerti," ucap Tini.
"Iya Baby aku mengerti bahkan sangat mengerti, sekarang
kita Mall dulu."
Vian pun kembali menjalankan mobil nya dengan kecepatan
sedang dan satu tangan memengang tangan tini.
Pria itu begitu menyayangi tini, tini bukan hanya wanita
yang di cintai, tapi Tini belahan jiwa nya. Tanpa tini mungkin saat ini dia
akan masih menjadi pria be*at yang celap-celup sana sini dengan berganti-ganti
wanita yang di suka.
Tak lama kemudian mobil yang di kendarai Vian tiba di area
Mall.
Mereka pun segera turun dan masuk ke dalam, vian begitu
menjaga tini, selepas turun tadi tangan nya tak sedetikpun melepaskan genggaman
nya.
Vian memilih pakaian yang akan di kenakan beberapa hari ke
depan selama tinggal di Indonesia.
Namun pria itu tak kunjung membeli, semua yang di lihat tak
ada yang menarik perhatian nya.
Tini melihat Vian belum memutuskan ingin yang mana menjadi
binggung.
"Van ada apa dengan mu? Kenapa sejak tadi ku lihat
belum juga memilih?" tanya Tini membuka suara, melihat pria itu
mondar-mandir di depan membuat kepala nya sakit.
"Baby, aku belum menemukan pakaian yang cocok di sini
begitu buruk kita pindah ke lain tempat saja," ajak Vian santai tanpa
merasa bersalah mengandeng tini pergi.
Wanita yang di gandeng itu hanya bisa menghela nafas panjang
mencoba sabar tidak marah.
Seperti inilah Vian, pria itu seperti wanita kalau ke Mall
pasti lama, bukan menghamburkan uang membeli banyak barang, tapi menghamburkan
waktu berjam-jam hanya untuk mendapatkan satu barang yang di suka.
Hal seperti ini tidak membuat tini kaget melainkan membuat
nya kesal.
"Sabar, pria seperti nya jika di marahi akan tambah
menjadi," batin Tini menenangkan dirinya.
Tini tidak ingin memarahi vian lebih, nanti pria itu akan
mengatakan diri nya galak lagi.
"Iya ayo."………(Bersambung Bab 274)
Posting Komentar untuk "Bab 273 Pernikahan Di Atas Kertas "