Bab 271 Pernikahan Di Atas Kertas
Novel berjudul Pernikahan Di Atas Kertas adalah sebuah novel yang bergenre romantis banyak orang yang dibuat ketagihan untuk membaca novel ini, novel ini sangat terkenal karena jutaan orang telah membaca novel ini dan merasa puas.
Novel ini dapat membuat guncangan emosi yang kuat bagi
pembacanya, karena di setiap alur ceritanya membuat pembaca semakin ingin tau
kelanjutan dari cerita nya.
Teman – teman pasti penasaran dengan ceritanya bukan? Pada kali
ini saya akan memperkenalkan dan memberikan novel Pernikahan Di Atas Kertas,
Kami yakin anda pasti akan suka dengan novel ini, mari kita simak bersama novel
berikut ini
Novel Pernikahan Di Atas Kertas Bab 271
![]() |
Arka dan Aqila yang baru tiba di area sekolah.
"Bie, kok udah pada rame ini masih jam 11:30 lho, bukan
nya anak-anak pulang jam 12:00?" tanya Aqila binggung.
"Aku juga gak sayang, coba kita cek saja, ayo,"
ajak Arka.
Di luar mobil, arka dan aqila mencari twins A, tapi belum
juga menemukan keberadaan mereka.
Aqila berinisiatif bertanya pada anak-anak yang di dekat
sini, siapa tau salah satu dari mereka melihat twins A.
"Dek, sini," panggil Aqila lembut dengan senyum
manis.
"Iya tante cantik, ada apa?" tanya bocah perempuan
yang tadi di panggil aqila.
"Cantik kenal Abi dan Arin, gak?"
"Kenal tante cantik, mereka teman kelas aku, tante
cantik mommy abi dan arin ya?"
"Iya, tante mommy nya, cantik nama siapa?"
"Aku puput Tante cantik," jawab puput bocah
perempuan itu dengan senyum gemas menunjukkan lesung pipi.
"Nama yang cantik seperti orang nya," ucap Aqila
jujur.
"Tante juga cantik."
Arka yang melihat interaksi istri nya dengan anak kecil,
menjadi tersenyum.
"Nama kamu puput ya?" tanya Arka ikut nimbrung
dalam obrolan mereka.
"Iya Om, aku puput, Om pasti daddy nya abi ya?"
"Benar Om daddy nya abi. Apa Puput melihat anak-anak Om
berada di mana?"
"Iya, tadi aku sempat ngobrol sama abi, tapi abi
langsung pergi," jawab Puput lalu wajah nya berubah sedih mengingat tak
ada sikap lembut yang abi tunjukkan pada nya.
Aqila menyadari wajah bocah perempuan itu yang mendadak
berubah sedih.
"Puput kenapa? kok wajah nya sedih begitu?" tanya
Aqila penasaran apa yang membuat nya sedih.
"Tidak Tante cantik, aku baik-baik saja, oiya tadi aku
lihat abi kesana seperti nya sedang mencari arin," bohong Puput dengan
senyum manis nya.
"Oh begitu, apa Puput bisa tunjukkan pada Tante dan Om,
tapi Puput sedang tidak sedang menunggu jemputan kan?" tanya Aqila
memastikan, takut orang tua dari bocah perempuan itu mencari.
"Tidak Tante cantik, ayo."
"Ayo."
Aqila mengandeng tangan puput menelusuri jalan yang di
lewati abi tadi meninggalkan nya.
Lama berjalan mencari di sekeliling tapi mereka masih belum
menemukan keberadaan kedua bocah kembar beda gender itu.
Mata puput mengarah pada abang penjual es krim, dia sama
dengan arin menyukai es krim, dan tanpa sengaja kedua mata nya menangkap sosok
yang saat ini sedang mereka cari.
"Tante, Om, itu abi dan arin," tunjuk Puput pada
arah abang penjual es krim.
"Oiya, itu mereka, ayo kita kesana," ajak Aqila.
"Mommy," teriak Arin berlari memeluk lutut aqila.
"Sayang nya mommy kenapa bisa ada di sini? ini juga
kenapa mulut nya belepotan? Arin menghabiskan es krim nya berapa? jawab jujur
jangan bohong?" tanya Aqila lembut menatap putri kecil nya.
"10 Mom," jawab Abi cepat, menunggu arin jawab
pasti lama karena akan ada drama baru lagi yang di buat agar tidak di marahi.
"Apa benar yang di bilang Abi? Arin menghabiskan 10 es
krim?"
"Benar Mom, tapi Arin tidak habiskan sendiri, Arin bagi
Abi, Abi traktir Arin karena di pilih guru untuk lomba cerdas cermat
besok," bohong Arin seperti biasa membuat abi kena imbas dari drama yang
di buat.
Aqila melirik abi, dan bocah pria itu dengan berat hati
mengangguk membenarkan apa yang di katakan arin, mengelak kayak nya percuma
arin pasti akan mencari alasan baru.
Puput yang diam terus memandang abi, tapi pandangan itu tak
berlangsung lama karena ketahuan oleh orang yang di pandang.
Abi memberi tatapan tidak suka seolah mengatakan jangan
memandang nya lagi.
"Abi, kenapa melihat puput seperti itu?" tanya
Aqila yang menyadari tatapan abi aneh.
"Kenapa ada dia di sini Mom? bagaimana Mommy dan Daddy
bisa mengenal dia? apa dia carmuk?" tuduh Abi memberi tatapan tidak suka
dengan keberadaan puput.
Bocah perempuan itu selalu mengikuti nya seperti penguntit
dan hal itu membuat abi tak suka.
"Abi tidak boleh berkata seperti, nama nya puput bukan
dia, lagian kalian teman kelas kenapa nada bicara Abi seperti tidak suka?"
tegur Aqila karena perkataan putra kecil nya terlalu kasar tidak baik.
"Ya nama dia puput, tapi Abi tidak suka dengan nya Mom,
dia itu penguntit selalu mengikuti Abi di kelas," aduh Abi mengatakan apa
alasan yang membuat nya tak menyukai puput.
Setelah melalui kecil masalah anak-anak.
Sekarang mereka sudah berada di dalam mobil.
Arin terus mengoceh kesal pada abi tidak pernah lembut pada
puput seperti abi lembut pada nya.
"Sudah Arin jangan bahas nama nya lagi, Abi tidak suka,
kalau Arin suka ya Arin saja yang teman jangan ajak Abi," ucap Abi yang
tidak suka di paksa harus berteman dan bersikap baik pada siapa.
"Bie, kamu lihat sifat abi sama persis kayak
kamu," kata Aqila mendengar perdebatan twins A.
"Nama nya juga anak sayang, kalau gak sama kan
aneh," ucap Arka santai.
"Kamu ya bie malah bangga lagi, aku itu mau anak-anak
kita tumbuh besar dengan penuh kasih sayang, lemah lembut kepada perempuan
bukan seperti ini penuh kekerasan dan kekasaran dalam nada bicara."
"Sayang jangan salah kan aku, salah kan saja abi, dia
kan yang bersikap kasar pada puput kenapa malah aku yang kena?" protes
Arka tidak terima.
"Bagaimana aku mau menyalahkan abi bie, jelas-jelas dia
seperti ini karena melihat sikap mu yang kasar pada kak siska, jadi Abi
berpikir tidak ada salah bersikap kasar pada perempuan. Aku gak mau tau kamu
harus nasehat abi biar gak kayak gini lagi, atau aku marah sama kamu bie,"
ancam Aqila yakin sifat abi seperti sekarang karena melihat sikap daddy nya.
"Kok gitu sih sayang."
"Kalau gak mau aku marah gampang perbaiki semua."
"Iya, iya, baiklah, apapun untuk istri tercinta agar
tidak marah akan ku lakukan. Tapi kamu harus ingat perjanjian kita semalam,
karena aku akan selalu ingat dan menangi nya," ucap Arka mengingat sang
istri dengan senyum menggoda penuh kemenangan.
Glek....
"Dasar me*um hal gituan aja cepat ingat nya,"
monolog Aqila kesal harus terjebak perjanjian gila.
"Iya, aku mengingat nya Bie, tidak perlu di ingat kan
lagi."
"Wanti-wanti sayang, takut nya kamu lupa saja."
45 menit kemudian.
"Ayo sayang turun, kita makan dulu pasti kesayangan
mommy sudah lapar kan?"
"Iya Mom Arin lapar, Arin mau es krim lagi boleh?"
pinta Arin menatap tanya berharap di iya kan oleh sang mommy.
"No Mom, nanti bisa sakit gigi Arin kalau terus makan
es krim, Arin sudah makan banyak tadi, nanti Mom juga yang repot kalau Arin
sakit," cegah Abi cepat perhatian.
"Arin tidak bertanya dan meminta pada Abi, atau Abi mau
tabungan nya Arin sedekahkan pada abang penjual es krim?" ancam Arin
bertanya dengan penuh kekesalan di wajah nya menatap abi yang selalu saja sewot
pada nya………(Bersambung Bab 272)
Posting Komentar untuk "Bab 271 Pernikahan Di Atas Kertas "