Bab 3 Pernikahan Di Atas Kertas
Novel berjudul Pernikahan Di Atas Kertas adalah sebuah novel yang bergenre romantis banyak orang yang dibuat ketagihan untuk membaca novel ini, novel ini sangat terkenal karena jutaan orang telah membaca novel ini dan merasa puas.
Novel ini dapat membuat guncangan emosi yang kuat bagi
pembacanya, karena di setiap alur ceritanya membuat pembaca semakin ingin tau
kelanjutan dari cerita nya.
Teman – teman pasti penasaran dengan ceritanya bukan? Pada
kali ini saya akan memperkenalkan dan memberikan novel Pernikahan Di Atas Kertas, Kami
yakin anda pasti akan suka dengan novel ini, mari kita simak bersama novel
berikut ini
Novel Pernikahan Di Atas Kertas Bab 3
Setelah perbincangan panas Papa Arka menghentikan dan akan
dilanjutkan setelah acara selesei, ia tak enak jika di dengar tamu undangan.
Semua tidak akan baik jika di dengar orang luar, bukan nama
baik keluarga yang rusak tapi juga perusahaan keluarga.
Dikediaman Keluarga Dirgantara, semua mata menatap Aqila
meminta penjelasan. Setelah acara selesei dan berpamitan orang tua Arka meminta
izin untuk segera membawa Aqila ke rumah seharusnya ia tinggal sekarang.
Dan kini Aqila telah berada di mansion keluarga Dirgantara,
mansion yang megah dan interior bak kerajaan istana. Bukan merasa senang berada
di mansion besar 2X lipat dari tempat yang ia tinggalin dulu Aqila merasa sesak
nafas ingin rasanya ia kembali ke rumah lama meski kecil, tapi nyaman
ditempati.
"Qila sekarang kamu bisa lanjutkan. Kita semua ingin
mendengar penjelasan kamu." Perintah Mama Arka membuka suara melihat semua
telah duduk di ruang keluarga.
"Bukan Qila yang merencanakan ini Ma, Pa. Qila memang
gak punya bukti untuk ditunjukkan, tapi bukan begitu Qila bersalah. Tidak ada
niat Qila untuk menjadi istri anak Mama. Bermimpi saja tidak pernah bagaimana
yang lain dengan tuduhan Qila dalang nya." Jawab Aqila memandang Mertua
nya.
"Apa kata mu tidak niat, tapi ini apa? sekarang kau
menikah dengan ku! Apa masih mau mengelak lagi? Hentikan sandiwara mu itu tidak
mempan di sini. Aku sarankan padamu sebaiknya ikut privat acting." Kata
Arka mencibir Aqila.
"Aku berkata jujur tidak berbohong. Aku tahu, aku tidak
mempunyai bukti sekarang, tapi semua itu bukan menjadi alasan untuk kamu
menuduh ku." Tegas Aqila muak dengan semua tuduhan keluarga Arka yang
menghakimi nya.
Aqila muak terus di hakimi seperti maling yang ketangkep
basah warga, jelas-jelas ia tidak tahu menahu hilangnya Siska. Bagaimana ia
bisa dituduh tanpa bukti.
Hatinya sakit, Qila tak menyangka hidupnya akan lebih
menderita setelah menikah dengan Arka pria arogan tak berhati.
Mama Arka menjadi bimbang mendengar perkataan Aqila ada
benar nya. Ia menjadi ragu dengan tuduhan nya dan keluarga kepada Aqila tanpa
bukti.
"Maafkan Mama Nak, Mama sempat meragukan kamu dengan
tuduhan yang jelas tidak kamu perbuat." Tak enak hati Mertua nya pada
Aqila mantu nya.
"Papa juga minta maaf Nak, maaf Papa bersikap keras
padamu tadi." Tulus nya meminta maaf. "Arka kamu juga, jangan diam di
situ, cepat minta maaf semua ini karena kamu asal menuduh Qila!"
Perintahnya pada anaknya.
"Arka tidak sudi, Arka tidak salah. Papa dan Mama saja
yang gampang di kibuli Qila." Protes Arka masih batu dengan dugaan nya.
Mendengar respon Arka berbalik terbalik dengan orang tuanya.
Aqila menghela nafas pasrah dengan tuduhan Arka yang akan terus berlangsung.
Bagi Aqila sampai kapan pun Arka tidak akan bisa mempercayai
nya, karena hati dan pikiran Arka sudah dibutakan api dendam untuknya. Sebesar
usaha membuktikan tidak akan bisa kecuali Arka nya sendiri menyadari semua nya
salah tidak benar.
🌠_-_-_🌠
Negara Prancis.
"Besok jam 09:00 kita sudah harus berada di tempat atau
kamu akan di diskualifikasi juri." Roland Memperingati Siska agar tidak
lupa.
"Iya, aku tidak lupa Roland. Aku pusing dengar
perkataan kamu yang terus sama, aku bukan anak kecil yang harus di ingatin
setiap menit." Balas Siska.
"Yah sudah kalau begitu kamu istirahat sekarang,
siapkan stamina untuk besok."
Memandang kepergian Siska memasuki kamar, Roland menghembus
nafas kasar, lagi dan lagi ia harus kuat memendam perasaan ini. Entah sampai
kapan ia bisa menyimpan ini dari Siska.
Jujur Roland tak sanggup terus begini, semua ini hanya
menambah rasa sakit hatinya. Memendam perasaan cinta kepada Siska
bertahun-tahun bukanlah waktu yang mudah.
"Apa yang harus aku lakukan, apa sudah saat nya aku
memberitahu Siska tentang perasaan ku ini. Tapi bagaimana jika Siska marah dan
malah menjauh dari ku." Monolog Roland bertanya-tanya."Apa sebaiknya
tetap begini saja, aku tidak yakin jika Siska tahu semua akan baik-baik
saja."
Di kamar Siska duduk termenung di kasur empuk nya.
"Roland apa kamu hanya menganggapmu sekedar sahabat,
apa perasaan kamu tidak akan berubah." Batin Siska sedih.
Berbicara dengan batin sendiri Siska menguap dan mulai
membaringkan diri. Semoga bangun nanti semua akan lebih baik. Siska sudah
berada di alam mimpi dengan guling di peluk.
Berbeda dengan Aqila yang bingung. Saat ingin tidur di kasur
dengan tegas suara Arka memperingati nya untuk jangan menginjak kan kaki dan
badan di kasur empuk nya, hal itu menjadi kendala Aqila pikir nya, dimana ia
harus tidur jika di larang.
"Di mana aku harus tidur, jika kamu melarang ku
menginjak kan kaki di kasur." Bingung Aqila dengan Arka yang arogan.
"Bukan urusan ku, kamu bisa tidur di lantai. Jangan
sekali-kali kamu pindah di kasur ku atau sofa yang berada di sini... atau hidup
mu akan aku buat lebih sengsara dari ini." Ancam Arka serius, tidak
terlihat becanda dari wajah nya.
"Kenapa harus di lantai, jika kamu tidak mengizinkan
aku untuk tidur di kasur mu, biarkan aku tidur di sofa. Apa itu sulit
bagimu?" Tanya Aqila.
Dia bingung kenapa Arka melakukan ini kepada nya, apa Arka
masih dendam soal tadi pikir Ku mengiyakan dan yakin jika itu benar.
"Apa harus aku ulangi perkataan ku?" Tanya Arka
bangun dari kasur."Kamu di sini bukan nyonya Arka Dirgantara, tapi
pembantu yang akan aku siksa tiap hari, Apa kamu paham sekarang."
Mencengkram kuat dagu Aqila hingga ia meringis kesakitan.
"Sakit...." Sendu Aqila kesakitan.
"Sakit yah?" Tanya Arka balik." Semua ini
bukan akhir, tapi awal kehidupan mu." Senyum Licik Arka membenci Aqila.
"Lepaskan... aku mohon...." Pinta Aqila kesakitan.
"Sayang nya aku belum mau." Jawab Arka masih terus
mencengkram lebih kuat dari sebelum nya.
Aqila tak kuat membendung sakit nya lagi, akhirnya tetesan
bening mengalir jatuh di pipi. Kuat cengkraman Arka membuat ia susah berbicara
jelas.
Wajah nya terlihat jelas bahagia melakukan ini pada Aqila,
tak ada rasa kasihan atau simpati mendengar pilu tangisan Aqila menangis
kesakitan, yang ada suara itu menyemangati Arka untuk terus melakukan lebih.
"Jangan menangis karena tangisan mu tidak membuat ku
kasihan pada sampah. Semakin kamu menangis semakin aku puas, paham itu."
Melepaskan cengkraman dengan kuat menghempas badan Aqila terjatuh terpental di
lantai kubik.
"Auwh." Tangis Aqila merasa kesakitan amat kuat.
Sampai kapan akan begini, ini baru awal pernikahan nya.
Tidak pernah terpikir Aqila akan melewati semua ini, Ia pernah berharap jika
pernikahan nya menjadi pernikahan bahagia yang bisa melupakan nya tentang
kehidupan awal.
"Apa aku tidak pantas bahagia, kenapa harus aku yang
melewati ini? kenapa bukan orang lain Tuhan, kenapa harus aku." Batin
Aqila menangis pilu..……(Bersambung bab 4 )
Penutup
Bagaimana? apakah anda penasaran dengan kelanjutan
ceritanya? Pasti nya ketagihan dong, baiklah mari kita lanjut membaca ke bab
selanjut nya yaitu Bab 4 Novel Pernikahan Di Atas Kertas
Posting Komentar untuk "Bab 3 Pernikahan Di Atas Kertas "