Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Bab 2 Pernikahan Di Atas Kertas

Novel berjudul Pernikahan Di Atas Kertas adalah sebuah novel yang bergenre romantis banyak orang yang dibuat ketagihan untuk membaca novel ini, novel ini sangat terkenal karena jutaan orang telah membaca novel ini dan merasa puas.

Novel ini dapat membuat guncangan emosi yang kuat bagi pembacanya, karena di setiap alur ceritanya membuat pembaca semakin ingin tau kelanjutan dari cerita nya.

Teman – teman pasti penasaran dengan ceritanya bukan? Pada kali ini saya akan memperkenalkan dan memberikan novel Pernikahan Di Atas Kertas, Kami yakin anda pasti akan suka dengan novel ini, mari kita simak bersama novel berikut ini

Novel Pernikahan Di Atas Kertas Bab 2

Terdengar jelas suara tamu undangan. Kini Arka dan Aqila resmi menjadi sepasang suami istri.

Meski awal Arka menentang keras pernikahan ini. Arka tidak ingin menikah dengan wanita yang tidak ia cintai, wanita yang tidak ia kenali meski Aqila adik dari kekasih hatinya yang kabur dari acara pernikahan mereka.

Arka kecewa dengan Siska yang kabur tanpa mengabari ia dan keluarga, jika Siska ingin menunda pernikahan ini Arka akan melakukan nya.

"Selamat atas pernikahannya Pak, Bu."

"Langgeng sampai maut memisahkan."

"Cepat diberi momongan."

Ucapan dan selamat keluar dari mulut satu persatu tamu undangan mendoakan pernikahan mereka.

Mendengar doa tamu undangan, Arka menjadi muak ingin rasanya ia menyuruh mereka menarik perkataan yang lontarkan.

Meski sudah menikah tidak membuat Arka menganggap Aqila istrinya. Sampai kapan pun Arka tidak akan dan tidak mungkin bisa mencintai orang lain selain Siska cinta pertama dan terakhir bagi nya.

"Jangan merasa senang dengan pernikahan ini, karena aku tidak Sudi menganggap mu Istriku." Bisik Arka tepat di telinga Aqila yang duduk duduk disamping nya.

"Terserah mau kamu menganggap aku apa." Balas Aqila tanpa memandang Arka." Yang jelas dan harus kamu ingat sekarang aku istri mu, istri sah di mata hukum dan agama." Sambung nya berhasil memancing amarah Arka yang sejak tadi ia pendam.

"Jangan memancing amarah ku perempuan kampung. Kamu kira kamu siapa bisa berkata seperti itu? Istri sah di mata hukum dan agama tidak membuat ku menganggap kamu ada. Bahkan aku akan semakin menganggap kamu butiran debu tak berarti." Mencengkram tangan Aqila hingga ia meringis kesakitan.

"Sakit.... aku mohon lepaskan...." Pinta Aqila kesakitan dengan cengkraman Arka yang kuat.

Mendengar perkataan Aqila memancing amarah nya Arka seakan hilang kendali tanpa peduli tamu undangan yang ada. Arka mencengkram kuat tangan Aqila tanpa peduli ucapan Aqila meminta lepas.

Arka seakan tuli dengan ucapan Aqila yang terus memohon di lepaskan.

"Aku mohon lepaskan.... tangan ku sakit...." Pinta ulang Aqila tak di tanggap Arka lagi.

"Sakit yah?" Tanya Arka sinis. "Aku kira kamu tidak bisa merasakan sakit, ternyata kamu bisa." Puas Arka melepas cengkraman nya pada Aqila.

Aqila tak membalas perkataan sinis nya. Mata nya mengelus tangan yang di cengkram Arka tadi. Merah dan berbekas terlihat jelas di tangan putih Aqila.

"Aku peringatkan padamu jangan sekali membuat ku marah jika tidak ingin lebih menyakitkan dari ini. Kamu belum tahu aku bisa lebih nekat dari ini jika kamu ingin melihat akan aku tunjukan nanti." Senyum sinis Arka memperingatkan Aqila yang semakin takut.

"Kenapa kamu tega melakukan ini padaku? bagaimana juga sekarang aku istrimu. Apa tidak bisa kamu bersikap baik sedikit saja, aku tidak minta banyak hanya sedikit tidak lebih. Apa itu sulit untukmu? di sini aku korban nya bukan kamu." Balas Aqila yang muak pada Arka.

"Aku tidak salah dengar kamu korban?" tanya Arka mengulangi kata Aqila tadi."Dari sisi mana kamu korban bukannya ini keinginan kamu seperti wanita luar sana mengincar pria kaya untuk di jadikan suami. Atau ini rencana kamu dengan hilang nya Siska?" Tuduh Arka mencurigai Aqila dalang dari hilang nya Siska kekasihnya.

"Aku bukan orang jahat yang tega sama kakak sendiri, meski kak Siska bukan kakak kandungku, ia sudah aku anggap kakak ku sendiri. Sebelum bicara pikir dahulu mana ada adik yang jahat sama kakak." Bantah Aqila tidak terima tuduhan Arka pada nya.

Aqila tidak terima di tuduh menjadi dalang dari hilangnya kak Siska hanya karena sebuah asumsi tuduhan tidak benar adanya dari Arka yang mengatakan ia sama dengan wanita luaran sana mengincar pria kayak.

Terlihat jelas wajah Aqila yang marah setiap perkataan tuduhan dari Arka. Aqila tidak menyangka kekasih dari kakaknya yang kini telah resmi menjadi suaminya ini, pria arogan, kasar, tak berhati dan suka semau nya.

"Kata siapa tidak ada adik yang tega sama kakak nya apalagi bukan sekandung. Kamu jangan bermimpi bisa membohongiku dengan muda, karena aku bukan orang bodoh yang bisa mudahnya kamu tipu seperti orang di luar sana yang sudah kamu tipu, entah berapa korban yang sudah kamu tipu dengan wajah polos kamu." Sersa Arka yakin ucapan nya benar.

"Terserah mau kamu percaya atau tidak karena kepercayaan kamu tidak penting untukku. Dan satu yang harus kamu tahu dan selalu kamu ingat aku bukan orang jahat dan tidak tahu terima kasih pada orang yang sudah membesarkan ku." Balas Aqila makin muak ingin rasanya ia pergi meninggal Arka.

Dari kejauhan orang tua Arka melihat perbincangan Arka dan Aqila tiada henti. Mereka berpikir jika Arka dan Aqila sedang berbincang untuk lebih dekat mengenal satu sama lain karena pernikahan dadakan.

"Kalian sedang berbicara apa? Papa dan Mama perhatikan kayaknya menarik. Iyakan Ma?" Tanya Papa Arka pada sang istrinya.

"Benar Pa. Mama merasa dunia milik mereka berdua saja yang lain ngontrak." Jawab Mama Arka mencibir pengantin baru.

"Kalian apaan sih, kata siapa pembicaraan kita asyik?" Protes Arka.

"Kenapa dengan kamu nak, apa Papa dan Mama menganggu?" Bingung Papa Arka melihat reaksi Arka aneh.

"Asal Papa dan Mama tahu semua yang terjadi hari ini rencana dari Aqila. Wanita ini sudah menargetkan Arka menjadi sasaran untuk dijadikan suaminya. Dan sekarang rencana nya telah berhasil. Wanita licik ini berhasil menyingkirkan Kakak nya sendiri demi tujuan nya." Jelas Arka kepada orang tua nya.

Papa, Mama nya kaget mendengar perkataan Arka, mereka tidak menyangka menantunya sejahat ini jika benar perkataan Arka barusan.

"Apa itu benar Nak?" Tanya Mama Arka yang mulai terhasut.

"Semua itu tidak benar Tante, Qila bisa jelaskan." jawab Aqila

"Sekarang jelaskan apa benar perkataan Arka tadi!"

"Semua itu tidak benar. Qila berani bersumpah Om, Tante semua ini murni bukan campur tangan Qila. Qila gak tahu ini sama sekali." Balas Aqila menyakinkan orang tua Arka kalau tuduhan Arka salah tidak benar.

"Apa yang bisa kamu buktikan jika kamu tidak terlibat dengan hilangnya Siska?" Tanya lagi Mama Arka belum puas jawaban Aqila.

Mama Arka curiga dengan Aqila, ada benarnya perkataan Arka jika Aqila dalang semua ini.

Melihat wajah Aqila kebingungan, ia menjadi yakin jika Aqila ada sangkut pautnya dengan Siska.

"Kenapa diam? jawab apa kamu bisa buktikan?" Tanya ulang Mama Arka kali dengan nada dinaikan satu oktaf.

Aqila masih terus diam mendengar pertanyaan Mama Arka yang sama, menjawab apa pun itu percuma saja, jika ujungnya diminta bukti.

"Jawab Nak, jangan diam." Tatap Papa Arka buka suara melihat Aqila diam tak menjawab.

"Jawab apa kamu tidak punya mulut, hah?" Bentak Arka muak dengan diam nya Aqila sejak tadi..……(Bersambung bab 3 )

Penutup

Bagaimana? apakah anda penasaran dengan kelanjutan ceritanya? Pasti nya ketagihan dong, baiklah mari kita lanjut membaca ke bab selanjut nya yaitu Bab 3 Novel Pernikahan Di Atas Kertas

Posting Komentar untuk "Bab 2 Pernikahan Di Atas Kertas "